kampus vs keluarga

bre, gak suka banget gue dengan perasaan kayak gini, dengan kondisi kayak gini. ya, sebut aja bahasa gaul jaman sekarang, galau. nah, galau gue tuh beda sih ya. bukan macem galau disinetron atau galau2 an kecengan gitu. ya bagi gue itu udah gak jaman aja. hehe. *brarti pernah jaman*

gue bener2 galau, gue merasa gue belum siap di dunia kerja, pengalaman gue di kampus gak banyak2 amat, gue merasa belum cukup untuk mengasah soft skill gue, trus link atau jaringan gue alias kenalan gue juga gak banyak-banyak amat di kampus. gue tuh masih pengin banget di kampus. kemaren, ya 3 tahun lebih di kampus kemaren gue emang rada SO *gue sih ngerasa gitu. nah, sekarang gue ngerasa status mahasiswa ITB ni perlu dimanfaatin banget gitu loh buat belajar banyak di kampus.
betapa gue ngerasain, semakin banyak teman itu semakin hidup terasa lebih hidup, semakin banyak belajar itu semakin diri merasa rendah hati, semakin banyak melakukan sesuatu, kita akan semakin banyak salah, jadi membuat kita makin dewasa. ya intinya gue belum merasa mencapai titik dimana gue “matang” untuk terjun di dunia pasca kampus nanti.
belum sampe situ. kedua, gue juga kasian aja temen2 gue yang berjuang di amanah itu sedikit. jadi menambah keinginan dan ya jujur aja ke-care-an gue. ada aja tarikan2 itu, ada aja yg narik2… hehe

and…
disatu sisi, gue gak bisa se-enaknya berpikir gue mau lebih lama lagi di kampus. gue punya keluarga, gue anak pertama ade gue ada 3. masih sekolah semua. gue dari keluarga yang ekonominya biasa2 aja. eh, kemaren si bapak gue ditimpa musibah dikeluarin dari perusahaannya ama bos nya (yg jahat itu). otomatislah, gue lah harapan utama ortu gue untuk membatu ekonomi keluarga, buat bantu nyekolahin ade2 gue itu. gue dituntut lulus cepet, cari kerja yang bener. gak usah banyak cing-cong lah gitu pokoknya. bahkan si mama selalu bilang, “hal yg mama takutkan adalah gak ngeliat kamu wisuda neng, mama takut gak ada umur.” oke, baiklah ma *skakmat

ya Allah…. sesungguhnya hamba Mu ini cuma mengkhawatirkan kehidupan yang flat2 aja. lulus, kerja, pergi pagi-pulang sore. kurang asik gak sih. tapi ya gimana lagi, keluarga emang nomer satu. akhirnya ya cuma bisa sedih sendiri aja, cuma bisa ditelen sendiri semua ini. jalani sendiri.

semua, demi keluarga.

2 Comments

Filed under aku

Kata-kata Mario Teguh paling indah

Orang muda harus jatuh cinta
sejatuh-jatuhnya,
patah hati sepatah-patahnya,
tertawa, marah, sedih, rajin,
dan malas se-crazy-crazy-nya,

tetapi,

engkau harus segera bangkit,
mendewasa, berdiri gagah,
dengan bekas-bekas luka yang indah
di wajah dan dadamu,
dan dengan anggun dan berwibawa,
katakanlah ..

Dengan kewenangan
yang diberikan oleh Tuhan kepadaku,
dengarlah ini …

AKULAH PENENTU KEBESARAN HIDUPKU SENDIRI.

Leave a Comment

Filed under Kata-kata Mutiara

Akar kemunduran Planologi

Tulisan ini dibuat oleh dosen Planologi ITB, Krishna Nur Pribadi, dari buku Alumni Berbagi.

Paruh abad ini, ilmu planologi mengalami pergeseran paradigma. semula planologi adalah physical planning dan sekarang bergeser menjadi pengembangan kebijakan (policy). Itulah sebabnya, guru senior planologi ini ikut merancang Renstra 5 tahunan DPR-RI sejak 2004 hingga sekarang. Mengapa DPR-RI? Karena pembuat kebijakan adalah legislatif. kalau ingin rencana tata ruang dilaksanakan maka ilmu planologi juga harus terdesimenasikan di ranah legislatif juga.

dahulu, jurusan planologi didirikan karena kebutuhan pemerintah terhadap perencanaan di semua level pemerintahan. Jadi, tujuan pendidikan di jurusan ini jelas yaitu mengisi badan perencanaan dari pusat hingga daerah. sekarang apa? faktanya saat ini tak semua lulusan planologi terserap di BAPPEDA.

saat ini, telah terjadi perubahan kurikulum yang memprohatinkan dalam masa 10 tahun terakhir. awalnya kurikulum planologi didesain 6 tahun eshingga lulusannya matang dalam hal skill perencanaan, interaksi dengan dosen sudah dekat dan memiliki pengalaman kerja. tak heran jika banyak alumni tahun 70-an sudah bisa diserap dunia kerja sejak mahasiswa.

tapi kini, kurikulum planologi hanya 4 tahun dipotong 1 tahun untuk Tahap Persiapan Bersama (TPB) dan 1 tahun Tugas Akhir. Tahun kedua baru pengenalan, otomatis hanya 1 tahun efektif melatih skill perencanaan. hanya ada satu studio proses dan perencanaan., wajar jika alumni planologi sekarang merasa gamang ketika lulus. Karena belum mendapatkan keahlian apapun dari kuliah.

Kuliah terpenting planologi, yaitu studiol, kini juga tak diberi cukup anggaran oleh ITB. ITB menganggap studio planologi sama dengan studio arsitek yang hanya memerlukan meja gambar dan dikerjakan sendiri-sendiri. padahal kenyataannya studio planologi adalah pekerjaan merencanakan kota dan wilayah serta dikerjakan secara tim. Survei ke lapangan juga mutlak diperlukan untuk menghasilkan rencana yag sesuai kebutuhan. dan kuliah inilah yang sesungguhnya yang melatih mahasiswa untu kterbiasa bekerja tim dan berinteraksi dengan berbagai stakeholder perencanaan. karena keterbatasan dana, saat ini studio perencanaan mahasiswa memilih lokasi-lokasi sekitar Bandung. Alhasil, wawasan alumni planologi hanya tempat kelahirannya dan Bandung.

Dahulu, kurikulum kita fokus pada physical planning. jadi, planologi angkatan 70-an masih menikmati kelezatan ilmu geologi teknik, civil engineering, dan tata bangunan. Planologi memang lebih dekat ke sipil, lingkungan, geodesi, dan geologi. Pantas juga profil lulusannya mampu menangani proyek-proyek konstruksi seperti jalan, jembatan, bandara, dan sanitasi. dan kini jauh panggang dari api, geologi yang menjadi dasar physical planning bahkan tidak lagi dididikan di planologi.

otonomi keilmuan itu telah hilang. kini penyusunan kurikulum planologi bukan lagi menjadi kewenangan jurusan. Rupanya ini hal signifikan yang terjadi pasca perubahan posisi yangtadinya masuk FTSP (Fakultas Teknik Sipil dan Perencaaan) sekarang menjadi Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengambangan Kebijakan (SAPPK). Kini semua diatur oleh pusat ITB, termasuk dana.

5 Comments

Filed under Planologi

Resume Seminar “Understanding Global Changes”

Tiap-tiap Negara pasti pernah memiliki masa krisis. Baik itu krisis perekonomian yang kondisinya naik atau justru menurun. Dalam globalisasi dunia, krisis antar Negara akan terjadi secara bergantian. Setelah krisis global tahun 2008, lembaga keuangan dunia seperti IMF, World Bank, dan WTO menjadi tidak memiliki peran yang efektif. Akibatnya, justru Negara berkembang seperti Indoneasia terkena imbas atas permasalahan global seperti ketika Indonesia diminta dunia internasional untuk mengurangi emisi C02 demi kepentingan dunia bila tidak membawa keuntungan untuk Negara Indonesia sendiri.
Krisis global juga ditandai oleh kebijakan-kebijakan yang tidak konsisten. Contohnya adalah ketika Negara-negara maju yang memberikan bantuan kepada Negara berkembang pada dasarnya tidak didasari ketulusan, akan tetapi Negara maju menginginkan ada timbal balik berupa liberalisasi, privatisasi, deregulasi dan reformasi. Kemudian jua terjadi agunan-agunan yang diperjualbelikan. Kebijakan yang tidak konsisten tersebut merupakan suatu bentuk nepotisme.
Sistem perekonomian di dalam suatu Negara akan berbeda dengan Negara yang lain. Hal ini karena sistem perekonomian juga dapat dipengaruhi sistem social atau sistem pemerintahan, begitupun sebaliknya. Seperti pada teori yang dikemukakan oleh Adam Smith, mengenai pasar persaingan sempurna, dimana perekonomian akan berjalan dengan baik dan harga yang optimal tanpa intervensi dari siapapun. Namun, kenyataannya, sulit untuk menemukan pasar persaingan sempurna. Banyak eksternalitas negative yang terjadi jika pasar tidak diintervensi. Maka, disinilah peran pemerintah untuk mengintervensi pasar agar tidak ada pihak di luar sistem transaksi yang dirugikan (eksternalitas negative). Mekanisme pasar dan intervensi pemerintah ini seharusnya menjadi sesuatu pengembangan perekonomian suatu Negara yang dinamis. Secara umum ada empat kategori mekanisme perekonomian di suatu Negara, yaitu Liberalism/Neo-Lib, Keynesianism, Dengism/China Reform, dan Planned Economy/Socialism. Untuk Indonesia sendiri belum memiliki mekanisme perekonomian yang jelas dari keempat tersebut.
Setiap Negara memiliki karakteristik permasalahan perekonomian masing-masing yang unik dan khusus. Sehingga dalam menetapkan harus menggunakan sistem mekanisme perekonomian seperti apa tidak serta merta meniru dan mengaplikasikan sistem dari luar atau dari Negara lain secara menyeluruh. Kita bisa saja menetapkan sistem kita sendiri karena seperti yang telah disebutkan bahwa sistem perekonomian itu bergantung pada sistem social dan sistem pemerintahannya. Sedangkan sistem social pada suatu Negara itu sudah pasti berbeda dari Negara lain.

Leave a Comment

Filed under Planologi

Post-Suburbia

Ekspansi perkembangan kota-kota besar di Asia menuju wilayah sekitarnya berimplikasi pada perkembangan kota metropolitan yang sangat luas (extended metropolitan region). Perkembangan wilayah pinggiran sebagai perluasan wilayah kota inti dan perkembangan aktivitas sosial ekonomi, antara lain ditunjukkan oleh peningkatan jumlah dan kepadatan penduduk, konversi dan percampuran guna lahan, dan perpaduan kegiatan agrikultur dan industri. Pada perkembangannya, wilayah pinggiran ini menjadi wilayah yang memiliki perpaduan karakteristik perdesaan dan perkotaan dimana batas-batas antara kota dan desa menjadi bias.

Pada awalnya perkembangan wilayah pinggiran merupakan cerminan suburbanisasi, yakni pergeseran kawasan perumahan dari pusat kota namun perkembangan kawasan perumahan ini diikuti dengan perkembangan permukiman dengan skala yang lebih besar. Dengan demikian aktivitas komuting menjadi meningkat. Pada tahap perkembangan selanjutnya, perkembangan kawasan pinggiran diikuti dengan perkembangan aktivitas industri sehingga menciptakan percampuran guna lahan dan perpaduan aktivitas ekonomi dimana terdapat kombinasi karakteristik perkotaan dan perdesaan. Tahap perkembangan ini dikenal dengan istilah peri-urbanisasi. Pada tahap perkembangan selanjutnya wilayah pinggiran ini memiliki aktivitas yang lebih kompleks, yakni mulai bergesernya aktivitas ekonomi yang bersifat sekunder dan tersier serta pergeseran tenaga kerjanya dari pusat kota ke wilayah pinggiran. Akibatnya, wilayah pinggiran berkembang dengan pusat-pusat aktivitas baru dengan mobilitas penduduk yang lebih tinggi. Tahap perkembangan urbanisasi ini juga terjadi di negara-negara barat dan Cina dan dikenal dengan istilah post-suburbia. Faktor sosial dan ekonomi merupakan faktor pendorong utama pada perkembangan fenomena post-suburbia di negara-negara tersebut.

Perkembangan kota metropolitan terbesar di Indonesia, yakni Metropolitan Jabodetabek mulai mencerminkan fenomena post-suburbia dengan perkembangan kota dan kabupaten di sekitarnya yang semakin ekstensif, baik dalam hal keruangan maupun aktivitas ekonomi. Riset ini bertujuan mengidentifikasi fenomena post-suburbia yang terjadi di Metropolitan Jabodetabek pada aspek keruangan, sosial, dan ekonomi yang telah berkembang di dalamnya. Adapun sasaran yang dirumuskan pada riset ini mencakup identifikasi pada elemen-elemen pendorong perkembangan post-suburbia, proses perkembangan pola dan struktur keruangan, pola pergerakan penduduk, dan dinamikan perkembangan pusat-pusat ekonomi yang bersifat sekunder dan tersier di wilayah pinggiran Metropolitan Jabodetabek.

Metodologi yang digunakan pada riset ini terdiri dari pendekatan studi, metode pengumpulan data, dan metode analisis. Pendekatan yang digunakan pada riset ini merupakan pendekatan studi kasus, yakni untuk menjelaskan fenomena post-suburbia di Metropolitan Jabodetabek yang dianggap kompleks. Metode pengumpulan data pada riset ini terdiri dari pengumpulan data sekunder, terdiri dari data statistik dan peta perkembangan lahan serta data primer, yakni untuk memenuhi informasi pergerakan penduduk dan perkembangan aktivitas ekonomi. Metode analisis pada penelitian ini terdiri dari analisis statistik deskriptif dan Qualitative content analysis.

1 Comment

Filed under Planologi

Bola Salju Kemacetan Jakarta

Masih di hari yang sama, hari Jumat, 22 Juli 2011.
Saya pulang kerja praktek alias magang di sebuah instansi pemerintah di Thamrin, Jakarta Pusat. Seperti biasa, saya keluar kantor pukul 4 sore dan saya menggunakan busway. Dari Sarinah ke Bendungan Hilir keadaan jalanan normal-normal saja. Kemacetan masih dalam batas kewajaran tiap Jumat sore, memang seperti itu. Sampai ketika saya transit ingin ke Semanggi, melewati Skywalk yang panjangnya sepanjang dosa itu, saya melihat kemacetan yang tidak wajar. Jalanan semanggi dipenuhi oleh kendaraan yang diam total tidak bergerak sama sekali. Bahkan motor pun tidak bisa bergerak. Ini macet yang tidak wajar. Kemudian, busway ke Pinang Ranti pun di tutup haltenya. Kami disuruh ke halte Slipi dulu. Baru nanti busway akan masuk tol katanya. Lucunya, petugas satgas busway atau satpam atau apalah itu bersemangat sekali memberi arahan kepada orang-orang yang ingin naik busway. Macem Flow-er. Dan saya pun ke Slipi. Lalu memang benar, busway nya diarahkan masuk tol, bukan jalan regular. Uuh, seneng banget. Koordinasi dan inisiatif tim busway transjakarta ini lumayan hebat. Saya akhirnya tidak terlalu parah terjebak macet. Jempol untuk tim busway transjakarta.

Meeen, bukan busway yang ingin yang bicarakan. Tapi tentang apa penyebab jalanan semanggi yang macet total sampe ke slipi ini. dan penyebabnya adalah tentang… jeng jeng…. DEMO BURUH ! woooowww terima kasih bapak-bapak dan ibu-ibu demonstran. Anda sekalian bikin macet jalanan Jakarta kemana-mana. Demo kalian bikin bola salju kemacetan. Ternyata demo dilakukan di JAMSOSTEK Gatot Subroto. Dan itu membuat jalanan yang terhubung dengan Gatot Subroto macet, lalu ke Semanggi. Semanggi macet, bikin di Slipi juga macet. Gatot Subroto macet, bikin Kuningan Barat juga macet, berentetan macet ke Kuningan, Pancoran, dan MT Haryono. Kesimpulannya, Jakarta jadi tambah macet parah dimana-mana.

Meeen, coba deh pikir. Kalo demonya kayak gitu, siapa juga yang mau denger? Yang ada orang caci maki. Kalo pengen didenger masyarakat Jakarta juga gak bisa doong. Kan jadi macet. Kendaraan berhenti, gak bisa liat demonstrannya doong, gak bisa denger teriakan demostran doong. Coba kasian banget korban-korban kemacetan seperti saya ini yang udah kelaperan kruuuk… kruuk… kruuk.. dan berdiri berjam-jam di busway yang terjebak macet. dan yang paling kasian adalah ada ambulans yang terjebak macet total padahal dia udah bunyi ngiung… ngiung… ngiuung… berisik benget minta loncat ke rumah sakit.

Dan yang kita butuhkan saat macet total kayak gitu sih Cuma satu, yaitu Angkot Copter alias angkot yang bisa terbang.
hahahaha

2 Comments

Filed under Potret kehidupan

Tinju Tukang Koran

Kemarin, hari Jumat tanggal 22 Juli 2011. Sebenarnya saya suka hari jumat. Pertama karena hari terakhir kerja, kedua karena tiap hari Jumat, orang-orang Jakarta kebanyakan memakai baju batik. Cantik-cantik deh mbak-mbak kantor di Jakarta jadinya. Masnya juga ganteng-ganteng kan jadinya. Cinta batik forever.

Meeen, tapi bukan tentang batik topik utama saya menulis ini melainkan saya ingin cerita pengalaman saya hari ini melihat kejadian yang lagi-lagi kecelakaan di jalan.

Lokasinya di lampu merah Taman Mini. Waktu itu kendaraan mulai berhenti karena lampu nya merah. Waktu itu saya sedang naik angkot. Tiba-tiba ada tukang Koran yang tertabrak motor hingga terpental jatuh duduk terjengkang ke aspal jalan. Tapi tukang koran itu sepertinya cukup kuat, dia bisa cepat berdiri lagi. Kontan, si tukang Koran itu marah ke pengendara motor yang menabraknya. Tukang Koran teriak-teriak, “Liat lampu merahnya gak mas!!!!???” si pengendara motor tidak langsung minta maaf ke tukang Koran, tapi sepertinya malah membela diri. Lalu si tukang Koran langsung meninju muka pengendara motor tersebut. Sangat keras tinjunya sampai si pengendara motor hidungnya berdarah hebat. Kendaraan di belakang mereka sudah kesal teet tooot teeet tooot membunyikan klakson. Akhirnya si pengendara motor menepi dan membersihkan lukanya.

Yang ditabrak siapa, yang berdarah siapa…
Sudah sering kali saya lihat dengan mata kepala sendiri kecelakaan akibat motor atau motor yang jadi korban. Motor semakin hari semakin membludak memenuhi jalanan, baik itu jalan primer, jalan kolektor, bahkan jalan lokal saja sudah dipenuhi sama yang namanya motor. Mau nyalahin pengguna motor, bukan salah mereka juga sih. Toh, ekonomi pasti jadi alasan utama mereka pake motor karena ongkos bensin motor relative murah dan DP beli motor yang sangat mudah. Waktu untuk mencpai tujuan juga relative lebih cepat menggunakan motor daripada angkutan umum. Pemerintah tidak membatasi jumlah motor. Kalau terus-terusan orang membeli motor, ya jalanan akan penuh dengan motor. Nanti macet juga jadinya.

Leave a Comment

Filed under Planologi, Potret kehidupan