Potato

How much hate are we carrying?

A kindergarten teacher has decided to let her class play a game.

The teacher told each child in the class to bring along a plastic bag containing a few potatoes.

Each potato will be given a name of a person that the child hates, So the number of potatoes that a child will put in his/her plastic bag will depend on the number of people he/she hates.

So when the day came, every child brought some potatoes with the name of the people he/she hated. Some had 2 potatoes; some 3 while some up to 5 potatoes. The teacher then told the children to carry with them the potatoes in the plastic bag wherever they go (even to the toilet) for 1 week.

Days after days passed by, and the children started to complain due to the unpleasant smell let out by the rotten potatoes. Besides, those having 5 potatoes also had to carry heavier bags. After 1 week, the children were relieved because the game had finally ended….

The teacher asked: “How did you feel while carrying the potatoes with you for 1 week?” The children let out their frustrations and started complaining of the trouble that they had to go through having to carry the heavy and smelly potatoes wherever they go.

Then the teacher told them the hidden meaning behind the game. The teacher said: “This is exactly the situation when you carry your hatred for somebody inside your heart. The stench of hatred will contaminate your heart and you will carry it with you wherever you go. If you cannot tolerate the smell of rotten potatoes for just 1 week, can you imagine what is it like to have the stench of hatred in your heart for your lifetime???”

Moral of the story:

Throw away any hatred for anyone from your heart so that you will not carry sins for a lifetime. Forgiving others is the best.

Menuju 24

Andai saja aku bisa bertanya kepada para Capung yang sedang melakukan ekdisis terakhirnya, bermetamorfosis dari bentuk nimfa, apa mereka merasa kesakitan? Atau pada ulat kenyal-kenyal menjijikan, lalu mereka berubah menjadi kupu-kupu yang memiliki kemampuan berpindah dari satu putik ke putik lainnya dan terbang seenaknya, cantik mengagumkan.  Apa mereka merasa kesakitan?

Entah aku saja atau semua orang juga sepakat bahwa menjadi dewasa itu tidak mudah dan tidak enak. (Seharusnya) bertambah umur berarti bertambah-tambah bobot ujian yang Tuhan berikan. Setelah sekian lama aku melakukan ‘bengongisasi’ (entah sudah berapa ayam tetangga yang mati), untuk berkontemplasi, berefleksi, berpikir-isasi tentang satu titik yang dimana sejak dulu aku mati-penasaran kan akan seperti apa aku di titik itu. Dan titik itu adalah suatu relativitas waktu, usia ku saat ini. Sungguh usia yang tidak mudah.

Yakin, Allah adalah sutradara terbaik, setiap skenario yang coba ditebak tak kunjung tepat. Membuat penasaran, apa lagi kelanjutan dari episode ini. Apa yang ku minta, selalu tak seperti itu yang diberi, lebih tepatnya, cara Allah memberi tidak seperti apa yang diperkirakan. Huft, menjadi dewasa itu tidak mudah, menjadi sosok yang lebih stabil (semoga) itu tidak lah gampang.

Dan ini lah hasil ‘bengongisasi’ berminggu-minggu tentang mengapa dan bagaimana Allah mengajarkan kita untuk menjadi insan yang lebih ‘dewasa’ sehingga di episode selanjutnya, kita akan lahir kembali, menjadi manusia yang lebih baik.

Pada dasarnya, proses menjadi dewasa (yang berkelanjutan) itu konsepnya sama dengan kita berpuasa, yaitu terdiri dari 3 proses utama: Menerima, Menahan, dan Melepaskan.

Menerima.

Allah menciptakan manusia ada yang telah ‘diset’ kepintarannya, bakatnya, termasuk lingkungan seperti apa nanti dia dilahirkan. Menerima kenyataan bahwa aku, kau, dan kita semua memiliki kekurangan dan kelebihan yang berbeda satu sama lain adalah hal dasar. Kau berbeda dan aku juga berbeda, menjadikan masing-masing manusia punya jalan cerita yang berbeda. Di luar itu, apapun yang dihadapi pada persoalan hidup seperti pertempuran, perhelatan, persaingan, yang penting bukan apakah kita menang atau tidak, tapi apakah kita mampu menerima kekalahan dengan baik. Menerima masukan, kritikan, ejekan, bahkan pujian yang justru bisa menjatuhkan pun tidak kalah penting. Dan dari itu semua, menerima diri sendiri adalah yang paling spesial.

Menahan.

Berjuta keinginan, harapan, hasrat dan cinta kita terkadang membuat hidup serasa terpacu. Namun, jika semua itu adalah hal yang salah, keinginan yang salah, harapan yang salah, hasrat dan cinta yang salah membuat prosesnya juga salah. Tahan lah dulu, beri jeda pada jiwa dan hati untuk menjawab. Sebaliknya, lebih tidak mudah lagi menahan amarah, benci, dendam, dengki, iri, dan semacamnya. Tahanlah, berpikir jernih akan menolong kita dari ketergesaan atas semua hal yang ingin dilakukan, yang bisa jadi akan berakhir na-as, atau sia-sia.

Melepaskan.

Mungkin ini lah yang paling sulit. Segala anugrah yang Allah berikan serasa kita lah yang paling berhak menguasainya, padahal semua juga atas ijin-Nya. Ingatlah apa yang dipunya adalah fana, karna kita sendiri juga Milik-Nya. Sewaktu-waktu bisa diambil. Sewaktu-waktu bisa berubah. Alam semesta itu tidak stagnan, semua bergerak, tak ada yang pasti, tidak ada yang diam. Apa yang paling dicinta, bisa hilang, bisa pergi, bisa diambil. Baik itu harta, tahta, dan manusia. Lepaskan, maka lihatlah energi kosmik akan memberikan lingkaran rotasi cerita selanjutnya.

Jadi, apakah Capung dan Kupu-kupu kesakitan pada prosesnya? Entahlah, yang pasti mereka jadi terlihat cantik dengan sayap itu.

 

Perempuan & Pendidikan

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”

-Surat RA Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902.